Selamat Jalan, Pastor Neles Tebay

0
169
Pater Neles Tebay, kedua dari kiri, saat bersama para uskup dan pastor lainnya, saat perayaan 50 tahun STFT. (Dok: Sesawi.net)

MAJALAHWEKO, JAYAPURA – Pastor Neles Tebay, bukan hanya seorang Imam Projo yang setia, sabar dan sederhana. 

Sosok Neles Tebay dimata Pastor Johanes Jonga.Pr, adalah sosok sahabat yang selalu ceria, pendengar yang baik bagi semua orang dan seorang kawan yang humoris.

Pater Neles Tebay.Pr lahir di Moenamani, Kabupaten Dogiyai, 13 Februari 1964. Masyarakat di Papua mengenal Pater Neles Tebay sebagai pencetus dialog Jakarta-Papua yang dikerjakan sejak 2009.

Pater Jonga menceritakan tahapan perjuangan dialog Jakarta-Papua pada dasarnya telah didengar Presiden Jokowi. Bahkan pada 2017, Pastor Neles Tebay telah dipanggil Jokowi dan diminta untuk mengumpulkan sejumlah tokoh yang akan diikutkan dalam dialog itu.

“Tapi hingga kini, dialog tak kunjung ada. Indonesia telah kehilangan sosok pemersatu bangsa. Ini sama saja menjadi kegagalan pemerintah Indonesia dalam melaksanakan gagasan luar biasa untuk dialog Jakarta-Papua,” kata Pater Jonga, kepada KabarPapua, Minggu 14 April 2019.

Sebenarnya firasat akan kehilangan Pastor Neles Tebay sudah dirasakan oleh Pater Jonga sejak satu pekan lalu, saat ia bersama sejumlah aktivis HAM mengunjungi Pastor Neles yang terbaring di kamar nomor 6, Rumah Sakit Carolus Jakarta.

“Saat saya datang di ruangan itu, Pater Neles menangis. Saya polo (peluk) dia. Hati saya sudah tak nyaman, sebab Pater Neles tidak pernah seperti ini. Tangisannya berbeda. Firasat saya juga tidak baik,” katanya.

Selama di Jakarta, tiga hari berturut-turut itu pula, Pater Jonga selalu bersama Pater Neles di rumah sakit. Datang pada pagi hari dan pulang pada malam hari. Banyak hal yang dibicarakan kedua sahabat yang selalu menyuarakan tentang upaya perdamaian di Papua.

“Saya sempat menawarkan untuk kami berdua berobat ke luar negeri, ke Malaysia atau ke Singapura. Tapi Pater Neles tidak mau. Ia mengaku sulit berjalan dan duduk. Ini resiko, biar sudah,” kata Pater Jonga mengikuti ucapan Pater Neles.

Tiba saatnya, Pater Jonga untuk berpamitan, sebab minggu malam ia harus pulang ke Papua. “Nay (kawan), saya sebentar malam mau pulang,” kata Pater Jonga yang langsung diberikan acungan jempol, seperti biasa Pater Neles berikan kepada dirinya.

Pastor Neles Tebay. (TIFA Foundation)

“Tepat satu minggu ini hari ini adalah pertemuan kami terakhir,” kata Pater Jonga, peraih penghargaan Yap Thiam Hien 2009.

Kini, tokoh penting untuk dialog Jakarta-Papua sudah tiada. Sebelumnya, masyarakat Papua juga kehilangan tokoh dialog Jakarta-Papua, Muridan S. Widjojo yang telah meninggal dunia pada 2014. Kemudian, Pater Neles Tebay, yang telah meninggalkan kita semua hari ini, Minggu 14 April 2019, pukul 12.15 WIB di Rumah Sakit Carolus Jakarta.

Jurnalis perempuan, Nethy Dharma Somba, salah satu orang yang kehilangan sosok Pater Neles. Ia menyebutkan, Pater Neles bukan hanya sebagai tokoh spiritual dan seorang dosen ahli yang melahirkan banyak pemimpin gereje katolik di Papua.

“Pater seorang yang rendah hati, selalu menerima semua pikiran dan kritikan orang lain. Ia juga penulis di sejumlah surat kabar, serta penulis buku yang hebat,” jelas Nethy.

Nethy yang mengenal sosok Pater Neles sejak 2001, sering bertukar pikiran dengan Pater Neles untuk segala hal.

“Kami biasa bertukar pikiran bersama. Kadang lewat telepon, kadang  juga kami baku janji untuk bertemu, sekedar cerita lepas atau cerita hal yang lebih serius. Saya banyak belajar dari beliau. Selamat jalan, Pater,” ujar Nethy.

Rencananya, jenazah Pater Neles akan tiba esok pagi di Jayapura dengan diantar oleh Wakil Uskup Jakarta dan akan diinapkan dua malam di Sekolah Tinggi Fajar Timur Padangbulan, sebelum dimakamkan di Timika, atas kesepakatan keluarga besar Pater Neles.   ***(Katharina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here