Presiden Gereja Baptis di panggil, Polda Papua tidak Mempertimbangkan pesta Demokrasi Indonesia

0
376
Theo Hesegem

MAJALAHWEKO, – Menurut pemahaman sebodoh saya, Polda Papua tidak mempertimbangkan pesta Demokrasi di Indonesia, yang akan berlangsung pada 17 April 2019, justru Polda Papua mengundang masalah.

Terkait dengan Panggilan yang dilayangkan POLDA PAPUA terhadap Presiden Gereja Baptis Dr. Socratez Sofyan Yoman, saya yakin umat akan rasa terganggu dan tidak senang sehingga mereka tidak akan memilih diam karena pimpinan Gereja atau tokoh di panggil untuk menghadap ke Polda Papua.

Sedangkan dalam rangka pesta demokrasi, telah kita memasuki H-1 dan tidak boleh ada yang diganggu pesta yang dimaksud, tetapi mungkin Polda Papua berpikir memanggil seorang pendeta yang ternama di Papua dan mendunia dianggap hal yang biasa-biasa saja tetapi menurut saya Polda mengundang masalah di Indonesia atau di mata Dunia.

Surat Kapolda

Doktor yang ternama di dunia itu, dipanggil sebagai saksi penyebaraan di mensos.

Menurut saya panggilan Polda Papua sangat tidak tepat dan itu memancing masalah supaya proses pesta demokrasi tidak dapat berjalan dengan sukses, saya sampaikan hal ini, karena berangkat dari pengalaman beberapa pimpinan Gereja di Undang Umat tidak pernah diam tetapi melakukan aksi damai.

Pertanyaan saya apakah Polda sudah pikirkan hal itu ? Saya yakin pasti tidak ? Dengan panggilan ini apakah pesta demokrasi dapat berjalan dengan baik ? Menurut saya hal ini sangat mengganggu.

Menurut saya suara kenabian tidak perlu dibawa ke arena proses hukum, karena suara nabi adalah suara Tuhan. Dan itu merupakan sebagai nasehat melalui Medsos.

Suara kenabian bisa disampaikan melalui apa saja, mungkin melalui media, Elekronik, dan melalui apa saja.

Saya pikir sebenarnya Polda Papua gagal menyelesaikan beberapa kasus dugaan pelanggaran ham misalnya

  1. Belum mengungkapnya pelaku Penembakan saudara Opinus Tabuni, pada tanggal 9 Agustus 2008 di Wamena
  2. Penembakan terhadap 4 siswa di Paniai 8 Desember 2014, kini sampai hari ini, Polda Papua belum mengungkapkan pelaku penembakan, kini sampai hari ini.

Kalau menurut saya Polda Papua sebagai aparat penegak hukum, semua kasus ini harus diungkapkan, dalam proses penegakan hukum Polda Papua juga, sering memebrikan pengampunan terhadap anggota yang melanggara hukum, artinya menghilangkan nyawa manusia misalnya penembakan terhadap saudara Yawan Wayeni di Serui.

Pelaku penembakan tidak pernah di hukum tetapi yang di hukum adalah anggot yang menyebarkan Vidionya Yawan, bukan pelakunya yang di hukum. Kalau begini bagaimana menurut anda penegahkan hukum di Papua apakah itu adil dalam proses penegakan hukum ?

Sedangkan menurut saya dari tiga kasus di atas adalah PR besar bagi Polda Papua, yang kini sampai hari ini, keluarga korban sedang menunggu kepastian hukum dari aparat penegak hukum.

Masalah besar ini belum beres lalu memanggil Pendeta Dr. Socratez S. Yoman sebagai saksi yang menyampaikan berita di medsos.

Tokoh gereja yang sangat terhormat di mata rakyat Papua di mata Intenasional itu, tidak kaku melihat dan membaca surat panggilan yang dimaksud, setelah saya bertelepon dengan beliau.

Panggilan terhadap tokoh besar yang dikenal oleh masyarakat luas, Menurut saya Polda Papua memancing masalah dimana-mana agar bangsa Indonesia di serang oleh masyarakat Internasional.

Menurut saya bicara soal penegakan hukum tidak boleh setengah-setengah, artinya bahwa ada masalah yang belum tuntas diselesaikan lalu lompat ke masalah lain.

Begini ini yang kepercayaan masyarakat terhadap aparat sebagai penegak hukum, tidak bisa di percaya lagi.

Saya baru saja bicara dengan beliau, bahwa menurut Beliau Polda Papua, tidak ada pekerjaan lain sehingga saya di panggil. Tetapi dirinya sudah bertelepon dengan ketua KPU terkait dengan surat panggilan yang dimaksud, menurut ketua KPU suara kenabian dan itu suara Tuhan sehingga tidak ada masalah.

Ada pertanyaan saya. Apakah pak Dr. Socratez S.Yoman, Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua akan penuhi panggilan pihak Polda?

Saya yakin, tokoh terkenal ini akan melawan dan tidak akan hadir dengan tujuan untuk membangun opini internasional bahwa seorang tokoh diganggu oleh polisi Indonesia. Karena pengalaman pada tahun 2010, tokoh ini pernah melawan panggilan polisi dan akhirnya Kedutaan Amerika ikut membela beliau. Minta maaf artikel ini bersifat sebagai masukan saja.

PEMERHATI HAM PAPUA ( HRD ) THEO HESEGEM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here