SAYA TIDAK IKUT MENYANYI LAGU INDONESIA RAYA

0
890

Oleh Dr. Socratez S.Yoman

Photo Penulis, oleh Dr. Socratez S.Yoman (The President of the Fellowship of Baptist Churches of West Papua)

1. Pendahaluan

Pada 7 Desember 2017 ada pelantikan bupati dan wakil bupati terpilih Kabupaten Puncak Jaya, Dr. Junni Wonda, MSi dan wakilnya.  Saya diundang untuk menghadiri acara pelantikan. 

Acara pelantikan dimulai dan pemandu acara mempersilahkan seluruh undangan dipersilahkan berdiri. Kita semua berdiri. Saya duduk di deretan kursi kedua dari kursi para bupati. Di depan saya ada 1  kursi yang kosong, dan pada saat saya duduk tatapan saya langsung tertuju kepada pak Lukas Enembe gubernur Papua, Ketua DPRP Papua  pak Yunus Wonda dan Ketua DPRD Kab. Puncak Jaya pak Wonda.

Pemandu Acara memandu kita untuk menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Mari kita menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Dirgent sudah mengayunkan tangannya mengajak kita menyanyi.

Saya tatap muka pak Gubernur, Ketua DPRP dan Ketua DPRD Kab Puncak Jaya dan tetap tutup mulut saya dan saya tidak menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Proses pelantikan bupati dan wakil bupati terpilih berjalan dengan lancar. Acara ditutup resmi dan kita istirahat. Pak Lukas Enembe gubernur Papua dan Ketua DPRP dan Ketua DPRD tinggalkan meja sidang dan kita bersalam-salaman. Pada saat bersalaman pak gubernur berkata singkat:” Pak Yoman, kenapa  tidak menyanyi tadi. Hargailah.”

Saya tidak berkomentar. Saya hanya senyum dalam hati saya sendiri. Karena yang tahu alasan saya sendiri. Mengapa saya tidak menyanyi Lagu Indonesia Raya.

2. Brigend TNI Abdul Haris Napoleon dan Kol TNI Victor Tobing

Dua orang pendatang ini punya kisah yang aneh dan lucu. Saya rasa aneh dan lucu karena pembicaraan mereka berdua tidak masuk di hati saya dan pikiran saya. Mereka berdua tidak sadar bahwa mereka tamu dan pendatang di Tanah Orang Melanesia, West Papua ini. Mereka orang asing di atas Tanah orang Lani kalau mereka berada di Mulia, Puncak Jaya.

Saya tulis kisah aneh, lucu, dan tidak masuk akal   ini dalam konteks Tanah orang Lani di Mulia, Puncak Jaya.

Pada waktu kita makan, saya duduk keliling satu meja dengan pak gubernur Papua dan Brigjend Napoleon. Saya ada cerita sedikit keadaan yang tidak aman dan tidak bebas yang dialami dan dihadapi bagi rakyat Papua selama ini.

Brigjend TNI Abdul Haris Napoleon langsung memberikan respon. “Oh…pak Socratez, Papua aman.  Buktinya kami ijinkan pak Socratez datang ke Mulia hari ini. “

Pak Abdul Haris Napoleon, benar-benar manusia tidak tahu diri. Orang pendatang lagi, tamu dan orang asing, tapi bikin diri  penguasa atas hidup saya dan orang Lani. Dia tidak sadar, kami ada di sini karena TUHAN tempatkan di sini sebelum orang lain atau penguasa kolonial  datang.

Keangkuhan, kesombongan, kekeliruan besar dan juga kategori sangat fatal yang dilakukan orang-orang pendatang, tamu dan lebih tepat para penguasa kolonial  dapat terlihat pada contoh lain sebagai berikut.

Pada 21 Oktober 2004, saya tiba di Puncak Jaya dalam tugas penggembalaan untuk memprotes pembunuhan Pendeta Elisa Tabuni yang ditembak mati oleh Kopassus dibawah pimpinan Dansatgas BAN-II/Kopassus, Letkol Inf.Yogi Gunawan pada 16 Agustus 2004 di Tinggibanambut.

Kita mengadakan pertemuan besar di Ruang Mulia INN dipimpin langsung oleh bupati Eliezer Renmaur didampingi Wakil Ketua I DPRD pak Elias Tabuni dan puluhan anggota TNI-Polri dan para tokoh masyarakat.

Saya protes keras atas pembunuhan pendeta Elisa Tabuni dalam pertemuan itu. Saya benar-benar menyatakan penyesalan dan kemarahan saya kepada perilaku yang tidak beradab, kriminal dan brutal para pendatang sebagai para kolonial ini.

Selesai pertemuan Kolonel TNI Victor Tobing, Kepala Intel Kodam XVII Cenderawasih  mendekati saya dan berbisik kepada saya: “Pak Socratez, saya akan atur perjalanan bapak ke Tingginambut untuk bertemu Goliat Tabuni.”  (Kisah  Lengkapnya dibaca dalam buku: Suara Gembala Menentang Kejahatan di Tanah Papua, 2012 hal.  101).

Saya heran luar biasa. Karena sangat lucu dan sangat aneh, orang-orang pendatang, tamu dan orang asing dan lebih tepat penguasa kolonial yang menduduki dan menjajah kami mau seenaknya dan semaunya mau mendikte, mau mengatur, mau memerintah hidup dan kebebasan dan kemerdekaan kami di atas Tanah Warisan dan Leluhur kami sendiri.

Bangsa kolonial Indonesia memaksa kami untuk menerima sejarah mereka, bahasa mereka, budaya mereka, bendera mereka, ideologi mereka, lagu mereka. Aturan dan undang-undang mereka.  Ini aneh. Ini lucu. Ini pemaksaan sebagai kejahatan kemanusiaan. Ini cara-cara kriminal. Ini cara-cara barbar. Ini cara hidup yang tidak beradab dan tidak manusiawi.

Penguasa memaksa kami dengan cara meneror, mengintimidasi, dan membunuh kami untuk menerima cara dan gaya hidup bangsa kolonial Indonesia yang sebelum kami tidak tahu dan tidak kenal.

Mengapa saya tidak ikut menyanyi Lagu Indonesia Raya pada 7 Desember 2017 pada saat pelantikan bupati dan wakil bupati Puncak Jaya? Maaf, itu bukan lagu saya. Saya tidak bisa dipaksa dan tidak boleh dipaksa untuk menyanyikan lagu penguasa penjajah yang menduduki dan membantai bangsa saya, rakyat saya dan suku saya selama 50 tahun lebih.

Saya dilahirkan dan dibesarkan di antara keluarga dan bangsa saya bukan untuk menyembah simbol-simbol dan lambang-lambang bangsa asing dan kolonial yang selama ini membuat bangsa saya sangat menderita, ada cucuran darah dan tetesan air mata di atas tanah leluhur sendiri . Saya dihadirkan oleh Tuhan di tengah-tengah bangsa Melanesia, West Papua dan suku Lani untuk menghormati bangsa saya sendiri  dalam keberadaan dan keunikan mereka.

Jawaban pertanyaan besar dan kunci akan dijelaskan supaya para pembaca, terutama penguasa kolonial Indonesia yang seenaknya dan semaunya menduduki, menindas, menjajah dan memusnahkan rakyat dan bangsa West Papua dapat belajar, sadar, mengerti dan mengakui siapa orang LANI sesungguhnya.  Para Penguasa kolonial Indonesia dan rakyat Indonesia perlu diajarkan dan diberikan pencerahan supaya mereka tahu dan sadar bahwa mereka salah dan keliru dalam menduduki dan menindas rakyat dan bangsa West Papua.

3. Saya Orang LANI yang Berdaulat Bukan Bangsa Budak

Orang-orang asing, Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia perlu pelajari dan ta hu tentang siapa orang LANI? Orang LANI: Orang-orang Otonom, mandiri, independen dan berdaulat penuh, Tidak pernah diatur oleh bangsa asing.

Dalam buku: Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri” (Yoman, 2010, hal. 92) penulis menjelaskan sebagai berikut:

Siapa Orang LANI? Orang LANI ialah  “Orang-orang independen, orang-orang yang memiliki otonomi luas, orang-orang yang merdeka, yang tidak diatur oleh siapapun.

Mereka adalah orang-orang yang selalu hidup dalam kesadaran tinggi bahwa mereka memiliki kehidupan, mereka mempunyai bahasa, mereka mempunyai sejarah, mereka mempunyai tanah, mereka mempunyai gunung, mereka mempunyai hutan, mereka mempunyai sungai, mereka mempunyai dusun yang jelas, mereka mempunyai garis keturunan yang jelas, mereka mempunyai kepercayaan yang jelas, mereka mempunyai kemampuan untuk mengatur, dan mengurus apa saja, mereka tidak pernah pindah-pindah tempat, mereka hidup tertib dan teratur, mereka mempunyai segala-galanya.”

Contoh:  Orang Lani mampu dan sanggup membangun rumah (honai) dengan kualitas bahan bangunan yang baik dan bertahan lama untuk jangka waktu bertahun-tahun. Rumah/honai itu dibangun di tempat yang aman dan di atas tanah yang kuat. Sebelum membangun honai, lebih dulu dicermati dan diteliti oleh orang Lani ialah mereka melakukan studi dampak lingkungan. Itu sudah terbukti bahwa rumah-rumah orang-orang Lani di pegunungan jarang bahkan tidak pernah longsor dan tertimbun tanah.

Contoh lain ialah orang Lani membangun dan membuat pagar kebun dan  honai/rumah dengan bahan-bahan bangunan yang berkualitas baik.  Kayu dan tali biasanya bahan-bahan khusus yang kuat supaya pagar itu berdiri kokoh  untuk melindungi rumah dan juga kebun.

Orang Lani juga berkebun secara teratur di tanah yang baik dan subur untuk menanam ubi-ubian dan sayur-sayuran.

Dr. George Junus Aditjondro mengakui: “…para petani di Lembah Baliem misalnya, memiliki budaya pertanian ubi-ubian yang tergolong paling canggih di dunia, hasil inovasi dan adaptasi selama 400 tahun tanpa bantuan sepotong logam” (Cahaya Bintang Kejora, 2000, hal. 50).

Suku Lani juga dengan kreatif menciptakan api. Suku Lani dengan cerdas dan inovatif membuat jembatan gantung permanen. Para wanita Lani juga dengan keahlian dan kepandaian membuat noken untuk membesarkan anak-anak dan juga mengisi bahan makanan dan kebutuhan lain.

Yang jelas dan pasti, suku Lani ialah bangsa yang bedaulat penuh dari turun-temurun dan tidak pernah diduduki dan diatur oleh suku lain. Tidak ada orang asing yang mengajarkan untuk melakukan dan mengerjakan yang sudah disebutkan tadi. Suku Lani adalah bangsa mempunyai kehidupan dan mempunyai segala-galanya.

Dari uraian singkat ini memberikan gambaran yang jelas bahwa pada prinsipnya orang Lani itu memiliki identitas yang jelas dan memelihara warisan leluhur dengan  berkuasa dan berdaulat penuh sejak turun-temurun. Orang Lani ada  orang-orang terpandang dan pemimpin yang dihormati dan didengarkan.

Ndumma artinya pemimpin pembawa damai, pembawa kesejukan dan ketenangan, pelindung dan penjaga rakyat. Ndumma itu gelar tertinggi dan terhormat dalam suku Lani. Suara Ndumma tidak biasa dilawan oleh rakyat karena ada nilai-nilai kebenaran, keadilan, kasih, kedamaian dan pengharapan.

Ap Nagawan, Ap Wakangger, Ap Nggok, Ap Nggain, Ap Akumi Inogoba. Ini semua pangkat dan sebutan orang-orang besar dan pemimpin yang digunakan dalam bahasa Lani. Semua pemimpin ini suara dan perintahnya selalu dipatuhi dan dilaksanakan karena ada wibawa dalam kata-kata. Mereks semua pelindung dan penjaga rakyat.

Penulis sendiri  Ap Ndumma dan Ap Nagawan. Jadi, saya heran orang asing, pendatang dan lagi kolonial seperti Brigjend TNI Abdul Aris Napoleon dan Kol.TNI Victor Tobing dan lain-lain mau mengatur dan memerintah saya.

Akhir dari tulisan ini, penulis mengutip pendapat orang asing tentang Orang LANI.

Pastor Frans Lieshout OFM memberikan pengakuan tentang Orang LANI sebagai berikut:”

Mendengar pengalaman orang-orang luar yang pernah bertemu dengan masyarakat Dani di pegunungan tengah, maka ternyata mereka semua menjadi heran dan kagum. Heran, karena masyarakat pegunungan tengah, yang hidup terisolasi dan terkurung di tengah-tengah gunung-gunung tinggi dan yang sebelumnya dianggap primitif di segala segi kehidupannya, yang lagi dikhawatirkan jahat itu, ternyata adalah orang-orang yang ramah, bersahabat dan sopan. Kagum, karena orang-orang Dani itu, meskipun masih hidup di zaman batu namun mempunyai peradaban dan kebudayaan tinggi, mempunyai ketrampilan untuk bertani dan menggarap tanah secara intensif, memiliki teknik tinggi untuk membangun sistim irigasi, jembatan gantung dan pagar-pagar dengan tekun dan teliti, membangun dan memelihara rumah-rumah mereka dengan rapi dan bersih serta sesuai dengan iklim dan alam hidup mereka.” (Sumber: Sejarah Gereja Katolik Di Lembah Balim, 2008 hal.11).

Di sini menjadi jelas bagi para pembaca, bahwa  yang primitif, hidup di zaman batu, terisolasi, terkurung  itu para penguasa Indonesia yang menduduki, menjajah, menindas, membunuh orang-orang peradaban tinggi bgs West Papua.

Karena penulis sebagai Ndumma dan Ap Nagawan tahu dan ada kesadaran, penulis dari bangsa yang mempunyai peradaban tinggi sejak turun-temurun, saya bangsa yang berdaulat, maka saya tidak mau menerima dan menyanyi lagu Indonesia Raya sebagai lagu kolonial yang tidak pernah ada dan tidak pernah diwariskan sebagai warisan leluhur di suku Lani, bangsa West Papua dan Melanesia.

Selamat Membaca. Waa….Nowe Nawor Abok Kinaonak.

Ita Wakhu Purom, 10 April 2019.

Penulis: Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua.

Editor: Nuken/MW.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here