Operasi Militer di Kabupaten Nduga 2018-2019

0
303

Oleh Dr. Socratez S. Yoman

Foto: 755 Warga Penggungsi Masyarkat Nduga yang saat ini menampung di Kuyawagi-Nuken/MW.

1. Pendahuluan

Kita harus akui jujur dan sampaikan dengan terbuka. Pemerintah Indonesia memang penjajah atau kolonial moderen kejam dan brutal yang nyata di depan mata, hidung dan wajah kita yang sedang menduduki, menjajah, menindas dan memusnahkan rakyat dan bangsa West Papua dengan menggunakan kekuatan Negara, yaitu Tentara Nasional Indonesia. 

Kekejaman, kebrutalan, kekejian dan kejahatan kemanusiaan yang merendahkan martabat manusia sebagai gambar dan rupa Allah ini harus dilawan. Iblis dan Setan yang berwajah manusia yang bertopengkan atas nama keamanan dan kepentingan Nasional ini harus dilawan. Kita tidak boleh menjadi penonton atas kekejaman ini. Secara iman sangat berdosa dan secara etika sangat salah kalau kita biarkan kejahatan Negara ini yang menggurita atas hidup umat Tuhan di atas tanah leluhur mereka.

Laporan yang dirilis Koran Tempo Edisi 8-14 April 2019 memberikan gambaran jelas kekejian dan kekejaman pemerintah Indonesia melalui kekuatan TNI.

Laporan Koran Tempo hasil wawancara kepada Letnan Dua Deddy Santoso yang beroperasi di Distrik Yigi sebagai berikut:

“Distrik Yigi begitu sunyi. Tak ada tanda-tanda kehidupan di wilayah utara kabupaten Nduga, Papua. Honai-honai melompong, ladang-ladang pun lengang. Tiada penduduk melintas. Ternak mereka, babi dan ayam juga tak terlihat berkeliaran. …Di bukit pertama yang menjadi pintu masuk Yigi, puluhan personel TNI menempati empat rumah milik PT Istaka Karya, perusahaan yang membangun jalan/jembatan Trans Papua di wilayah Nduga. Sudah lama distrik ini ditinggalkan penduduk. Selain Distrik Yigi, distrik Dal, Bulmu, Yalma dan Gunung Tabo sudah diduduki TNI.”

Photo Penulis, oleh Dr. Socratez S.Yoman (The President of the Fellowship of Baptist Churches of West Papua)

Dalam laporan Koran Tempo, Komandan Pelaksana Operasi Militer di Nduga, Kol. Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar dan Komandan Batalyon di Kabupaten Nduga, Mayor Deri Indrawan dengan nada yang sama bahwa TNI sudah menguasai Distrik Dal, Bulmu, Yalma dan Gunung Tabo.

Laporan ini menjadi jelas bagi kita semua bahwa di Kabupaten Nduga sedang terjadi operasi militer besar-besaran. Ini kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Negara.

2. Apakah di Nduga ada ladang emas?

Tidak masuk logika kita hanya karena 17 orang karyawan PT Istaka Karya yang tewas ditembak Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada 2 Desember 2018 terjadi operasi militer besar-besaran atas perintah presiden Indonesia, Ir. Joko Widodo patut dipertanyakan.

Mengapa hanya karena korban 17 orang itu, operasi militer Indonesia dalam skala besar, luas dan massif menggunakan Helikopter dan 600 pasukan TNI di kabupaten Nduga?

Akibat dari operasi militer Indonesia menyebabkan kekerasan dan kejahatan Negara di depan mata telanjang. Hampir 19 rakyat sipil ditembak mati, termasuk seorang pendeta senior dari wilayah ini.

Rakyat sebagai pemilik tanah diusir TNI dan mereka melarikan diri ke hutan-hutan dan ke daerah lain yang dirasa aman. Rumah-rumah mereka kosong. Kebun-kebun mereka tidak terurus dengan baik. Kesehatan tidak terurus dengan baik. Pendidikan bagi anak-anak berantakan dan akibatnya anak-anak telah kehilangan masa depan.

Sepertinya Negara mempunyai misi terselubung untuk mengusir penduduk asli Nduga sebagai pemilik tanah adat dan mengosongkan wilayah ini menggunakan tangan TNI. Misi terselubung Negara ialah ke depan pemerintah kolonial Indonesia akan membuka lahan tambang emas di wilayah Nduga.

Sebelumnya itu, Negara harus mengusir, bahkan bila perlu tiadakan dan musnahkan penduduk asli. Bisa saja, jalan Trans Papua yang dibangun TNI di Kab. Nduga itu untuk mobilisasi alat-alat berat untuk mengoperasikan tambang-tambang emas yang ada dalam perut bumi Ndugama.

3. Lahan Bisnis TNI di Timor Timur dan Aceh Telah Hilang

Selama ini, lahan TNI untuk mempertebal kantong itu tiga wilayah. Timor-Timur (sekarang: Timor Leste), Aceh dan West Papua. Tiga wilayah ini para jenderal selalu kelola sebagai wilayah konflik supaya ada tambahan pendapatan, naik pangkat dan promosi jabatan.

Dua wilayah, Timor Timur dan Aceh sudah hilang dan sekarang tinggal di West Papua ini. Jadi, para pembaca artikel ini jangan heran, Pangdam XVII Cenderawasih tidak mau tarik pasukanTNI yang sedang operasi di Kab. Nduga dengan dua alasan: TNI sedang bekerja jalan Trans Papua dan masih kejar OPM di hutan.

Apapun alasannya, operasi militer yang korbankan rakyat kecil dan diusir dari tanah leluhur mereka merupakan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran berat HAM.

———-

Ita Wakhu Purom, 8 April 2019

Penulis: Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua.

Editor: Nuken/MW.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here