Antara Pejabat Uang atau Pejabat Rakyat

0
382
Ilst Foto (nirmeke.com)

*Oleh: Gadabi Aleks

MAJALAHWEKO, – Banyak intelektual berkecimpung dalam organisasi praktis untuk menjadi seorang pemimpin apalagi ranah partai politik praktis adalah hegemononi yang memang kita tidak bisa meminimalisir dengan kekuatan ideologi perlawanan kita untuk pembebasan tanah air karena ketidak konsistensi kita terhadap garis perjuangan. 

Kekuatan ekonomi pun kita masih mengandalkan pada uang otonomi khusus sehingga banyak dogma-dogma di ciptakan orang kita sendiri untuk mengdewakan kalo Bernecis sebagai satu-satunya menjadi tuan di negeri sendiri melalui berbagi doktrin-doktrin dalam kehidupan.

Kecelewengan intelektual memang patut di pertanyakan tetapi juga menjadi analisis atas penyalagunaan karena penindasan di atas penindasan kaum elit lokal mejalankan sebagai penindasan berlipat ganda terhadap rakyatnya (penindasan dari dalam) dengan berbagai dahli untuk kekuasaan semata.

Demi kekuasaan semata itu kita sendiri telah menjadi partai pelopor penindas dan pemusnah bangsa sendiri. Kekuasaan itu kita anggap sebagai Mahakuasa yang memang tidak bisa di lepaskan dari kehidupan nyata. Bagaimana kita melawan nafsu kekuasaan itu adalah kembali pada setiap individu kita untuk melawan diri dengan menolak segala kemapanan demi tanah air dan anak cucu.

Kita lihat bagaimana anak-anak muda Papua menghianati diri dan mulai berajakulasi atas nama kekuasaan dengan mencalaonkan diri jadi Bupati, DPR dengan terjerumus kedalam kepentingan sesaat yang memang kolonial tawarkan dalam berbagai paket lapangan pekerjaan agar kita melupakan jalan tua milik tete nene moyang wariskan di pundak untuk memperjuangkannya.

Padahal, kita bisa lihat kebutuhan mendesak kita hari ini adalah bagaimana kita belajar taktik dan metode untuk mengorganisasi rakyat kita yang tertindas untuk bangkit melawan penindasan yang semakin kental bagai es batu dalam berbagai lini hidup yang di prakarsai oleh kolonialisme yang besar dan di lindungi oleh militerisme yang rapat rapi membungkus kehidupan kita ini.

Ini bukan takdir juga bukan misteri jika secara nurani menyadari bahwa hidup dalam sebuah kebebasan adalah dambaan setiap insan manusia di muka bumi berarti kita harus kembali kepada garis perjuangan untuk menentukan kehidupan kita sendiri di atas bangsa sendiri supaya ko bisa hidup tanpa tekanan apapun dan dari manapun.

Salam

*Aktivis Pendidikan di tanah Papua 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here