Update Pengungsi Nduga Papua

0
417
Anak SD ketika berbaris-sebelum masuk kelas sekolah 2. Sumber Foto: https://www.google.co.id

MAJALAHWEKO, WAMENA – Tim Relawan Kemanusiaan Untuk Pengungsi Nduga selama ini fokus mengurus pendidikan anak-anak sekolah asal Nduga di Wamena. Total ada 693 siswa yang sudah bersekolah di sekolah darurat. Mereka ini berasal dari 16 SD, 5 SMP dan 1 SMA.

Sebelumnya ada dari SMTK, namun sudah tidak masuk lagi. Minggu lalu, Tim Relawan Kemanusiaan berhasil meminta kesediaan Tim Medis dari GKI Klasis Port Numbai untuk melakukan pelayanan kesehatan. Selama kurang lebih seminggu para dokter melakukan pelayanan kesehatan untuk anak sekolah dan juga masyarakat pengungsi lainnya. 

Dari pelayanan kesehatan ini, tim dokter menemukan bahwa umumnya para pengungsi Nduga menderita ISPA, Anemia, Diare dan sakit punggung. 

Sebelumnya Tim relawan telah mengurus beberapa warga yang sakit dan dirujuk ke RSUD Wamena. Ada satu pelajar kelas V SD yang sudah tiga bulan mengalami tangan patah. Kami baru mengetahui kalau dirinya mengalami patah tulang tangan ketika ada seorang dokter yang diminta untuk mengobati para siswa yang sakit. Setelah dirujuk, siswi tersebut telah dioperasi. Tim relawan membayar Rp 5.000.000 untuk dua Pen yang dipasang di dua tulang yang patah di tangan kirinya.

Sementara itu, pengungsi masih terus berdatangan. Umumnya yang sekarang tiba adalah masyarakat yang berasal dari Distrik sekitar Yigi, Mugi, Nirkuri. Mereka mengaku bahwa mereka adalah rombongan terakhir yang selama ini ada dan bertahan di kampung.

Pengakuan

Persoalan pengungsi selama tiga bulan lebih seperti tidak mendapatkan pengakuan negara. Namun tanda-tanda perubahan mulai tampak. Berbagai berita dan advokasi yg dilakukan mendorong lembaga-lembaga dari Jakarta untuk datang ke Wamena dan mengunjungi pengungsi. Paling kurang dalam seminggu terakhir ada dua lembaga yang datang yaitu PMI dan Komnas Perempuan. Komnas Perempuan masih berada di Wamena sampai hari Jumat.

Selain itu, sekolah darurat pun telah didatangi Bupati, Wakil Bupati dan Sekda Nduga. Kedatangan ini sekaligus membahas tentang Persoalan Sekolah Darurat yang selama ini ditekan dan ingin ditutup oleh TNI. Keputusan yang diambil dalam rapat Akbar bersama para siswa, guru, dinas, tokoh agama dan aktivis, pengungsi lainnya dan Relawan adalah pendidikan tetap dilakukan di sekolah Darurat di Weneroma. Hal ini diambil setelah para siswa dan guru menyatakan ingin tetap di Weneroma karena sudah mulai beradaptasi dan merasa nyaman.

Sekolah darurat pun didatangi oleh Timotius Murib dari MRP. Namun dirinya tidak lama di sekolah darurat.  Pihak lain yang berkunjung adalah utusan Kedutaan Amerika dan Belanda. Datang dalam hari yang berbeda, kedua utusan kedutaan tersebut mengunjungi para siswa di sekolah darurat dan bertemu secara khusus dengan Tim Relawan. 

Selain itu, Tempo telah melakukan liputan khusus untuk kasus Nduga. Tim relawan memfasilitasi Tempo untuk bertemu berbagai pihak yg ingin diwawancarai. Kemungkinan dalam Minggu depan sudah keluar di majalah Tempo.

Meski sibuk dengan berbagai pekerjaan untuk mengurus pengungsi, Tim relawan pun diperkuat dengan pelatihan pendokumentasian. Pelatihan video dokumenter advokasi dilakukan oleh Papuan Voices Wamena. Selain itu, para relawan pun mulai belajar jurnalistik dengan menjadi Jurnalis Warga dan belajar membuat laporan singkat. 

Sementara untuk trauma healing, Tim relawan telah berkomunikasi dengan WVI untuk melatih Relawan dan Guru agar bisa melakukan Trauma Healing bagi para pelajar. Hal ini dipilih karena para guru dan relawanlah yang selama ini sudah dekat dan mulai mengenal para pelajar. Namun hal ini masih menunggu keputusan WVI. Selain berbagai kunjungan itu, berbagai pihak baik di luar Wamena maupun di Wamena sendiri terus menyalurkan bantuan.

Demikian pun dari Pemda Nduga

Editor: Admin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here