Sejarah. Di Sini Kami Berdiri

0
915

“Bagaimana pun bodoh dan primitifnya suatu bangsa, ia akan tumbuh, berkembang dan memiliki naluri mempertahankan hidup” (Mayon Sutrisno: Arus Pusaran: Roman Zaman Pergerakan, 1985, 2002, hal. 122).

“Saya pikir persidangan ini lucu, masak yang punya tanah diadili oleh orang lain sebagai tamu ditanah ini. Papua adalah Negara kami sendiri dan saya berharap melakukan apa saja untuk meneggakan hukum dan kedaulatan Negara saya sendiri” (Forkorus Yaboisembut, Ketua Dewan Adat Papua, Cebderawasih Pos, Rabu, 29 Februari 2012, Hal.7).

MAJALAHWEKONEWS.COM – Bagi orang lain, terutama, para pendatang, peryataan ketua Dewat Adat Papua (DPA), Forkorus Yaboisembut akan Tetapi, peryataan seorang pemilik tanah adat Papua in akan tercatat  dalam sejarah kehidupan dan peradaban rakyat dan bangsa Papua Barat kedepan. Peryataan ini akan hidup selamanya ditenggah-tenggah kehidupan akan dan cucu rakyat dan bangsa Papua Barat di kemudian hari.

Saya sependapat dengan suara seorang domba-domba Allah yang sedang digiring kepengadilan yang palsu dan penuh dengan kehebongan ini. Saya sebagai salah satu gembala umat sampaikan bahwa apa yang disampaikan Ketua Dewan Adat Papua, Forkorus Yaboisembut, adalah 100% dapat dibenarkan diterima dengan logika sehat. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena, rakyat bangsa Papua Barat mempunyai pijakan yang jelas dan seumur-umur air diatas Tanah leluhur mereka. Bijakan dan sumur-sumur air adalah sebagai berikut.

Pertama, Perspektif Allah.

Menurut pandangan Allah, siapa sebenarnya manusia itu? Berfirmanlah Allah: “..baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupah kita”… Kejadian 1.26). dalam peryataan Allah ini menjadi jelas bagi kita semua bahwa orarng Melanesia yang hidup di Tanah dan Negeri mereka sendiri ini adalah bukan anggota Separatis, anggota OPM, Pembuat Maker.

Ini memberikan gambar kepada kita semua bahwa baik orang kulit putih, berkulit hitam, berambut panjang dan berambut keriting adalah umat ciptaan TUHAN yang memiliki hak dan nilai serta derajat yang sama. Dengan demikian orang Melayu, yang disebut Indonesia dan orang Melanesia yang disebut orang Papua adalah sama-sama ciptaan TUHAN, tidak ada yang lebih berkuasa, lebih hebat, lebih super dibumi ini dilarang saling menindas, memeras, menguasai dan menjajah atas nama apapun dan kepentingan apapun.

Kedua, Perspektif Orang Asli Papua atau orang Melanesia.

Dalam sejarah kehidupan dan melangsungan hidup nenek moyang dan leluhur orang Melanesia sama sekali memang tidak ada hubungan dengan orang-orang Melayu, Indonesia, yang sekarang sedang menduduki dan menjajah orang Melanesia ini.

Orang Melanesia ini mempunyai cara pandang sendiri, budaya sendiri, bahasa sendiri, system pendidikan sendiri, interaksi social sendiri dan sejarah bangsanya sendiri. Sejak Allah manjadikan manusia dan menetapkan setiap umat manusia di setiap benua, pulau sesuai dengan budaya, bahasa, etnis dan keunikaannya masing-masing, dan Allah sendirilah dalam rencananya menempatkan orang Melanesia ini ditanah Papua Barat ini, supaya mereka hidup, berkarya, dan melanjutkan hidup di Tanah ini.

Nenek moyang dan leluhur orang Melanesia tidak pernah mewariskan stigma-stigma separatis, anggota OPM dan pembuat Makar. Stigma-stigma yang merendahkan martabat umat Tuhan seperti itu terdengar dan dimulai sejak 1 Mei 1963 sampai saat ini oleh Pemerintah Indonesia.

Ketiga, Perspektif Gereja.

Tuhan Yesus Kristus menegaskan: Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyai dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10.10). lebih jauh Tuhan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Gembalakanlah domba-domba Ku” (Yohanes 21.15-18).

Adapun Amanat Agung Yesus kepada murid-muridnya; “kepadaku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28. 18-20).

Dalam semangat dan pangilan suci ini, dua misonaris Eropa, Johann Gotlob Geisller dan Carl William Ottow sebagai utusan Tuhan dan Gerejan-Nya, tiba di tanah orang Melanesia, Masyarakat Adat dan Penduduk Pribumi, pemilik Tanah dan Negeri Papua Barat, pada hari Minggu pagi 5 Februari 1855, tempatnya di Teluk Doreh Mansinam, Manokwari, Mereka berkata, “Didalam Nama Tuhan Yesus Kristus kami menginjak kaki di Tanah ini”.

“Dua Misionaris dari Jerman ini datang ke tanah Melanesia kepada masyarakat Adat dan Penduduk Pribumi Papua, bertemu dengan orang Papua, bersahabat dengan orang Papua, tinggal dengan orang Papua, Makan bersama dengan orang Papua, Menghargai orang Papua, Menghormati hak Hidup orang Papua, mengakui martabat orang Papua, mengangkat kesamaan derajat orang Papua. Tidak pernah dan belum pernah melukai orang Papua secara fisik maupun mental.

Ottow dan Geisller bnar-benar menjadi sahabat setia orang Papua dalam suka dan duka. Ottow dan Geisller sebagai utusan Tuhan dan gereja-Nya belum pernah bahkan tidak pernah memberikan stigma orang Papua seperti separatis, makar, OPM, primitif, kanibal, terbelakang, terbodoh, termiskin, tertinggal. Karena. Kedua missonaris sebagai utusan Tuhan ini menyadari bahwa stigma-stigma seperti itu lebih layak digunakan para penjajah, colonial dan penindas”. (Baca: Opini: Gereja dan Separatisme di Tanah Papua Barat: Bintang Papua 28/02/12).

Peristiwa kehadiran gereja di tenggah-tenggah Masyarakat Adat, Penduduk Pribumi, Pemilik Negeri dan Tanah ini, tanggal 5 Februari 1855 merupakan tongkat sejarah suci dan mulai, sejarah kemanusiaan dimana hadirnya Kabar Baik, Keadilan, Perdamaian, yang bersumber dari Injil Yesus Kristus. Karena, Injil adalahn kekuatan Allah yang membebaskan manusia dari belenggu dosa dan membebaskan manusia dari penindasan dan kolonialisme, menghargai hak asasi manusia, mengangkat martabat manusia, merobohkan benteng-benteng diskruminasi dan explpoitasi hidup mansia, menghapuskan tetesan air mata dan cucuran dara orang-orang kecil yang tertindas. “Roh Tuhan ada padaKu, untuk menyampaikan kabar baik, kepada orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bag orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang bertindak untuk, memberitakan tanah ramah Tuhan telah datang” (Lukas 4. 18-19; Yesaya 61.1-2).

Gereja yang sudah berada di Tanah Papua Barat ini sejak 5 Februari 1855 sampai sekarang telah mencapai usia 157 tahun, menyadari bahwa orang Melanesia, orang Asli Papua, Masyarakat Adat ditempatkan Allah di Tanah Melanesia di Papua Barat ini sejak Allah menjadikan manusia. Orang Melanesia, Orang Asli Papua Barat, pemilik Tanah dan Negeri ini dan gereja datang dan hidup bersama orang asli Papua barat ini, menyaksikan, mengamati, mengalami bahwa pemerintah Indonesia datang sejak tanggal 1 mei 1963 dan sampai saat ini menempatkan orang Asli Papua Barat, Masyarakat Adat, Penduduk Pribumi ini sebagai musuh Negara dengan stigma-stigma anggota OPM, anggota separatis, dan pembuat makar.

Umat Tuhan Masyarakat Adat, penduduk Pribumi ini dikejar dan ditangkap seperti hewan buruan, dipenjarahkan, diculik, ditembak, dibunuh dan disiksa atas nama kepentingan keamanan integritas wilayah Nasional.

Sebagai Gereja yang menyuarahkan SUARA KENABIAN dan Advokasi pastoral menyatakan bahwa pemerintah Indonesia melalui kekuatan TNI dan POLRI dan Hakim menjaga integritas wilayah Nasional Indonesia (NKRI) sebaliknya, Gereja dengan tetap konsisten dan bertanggung jawab untuk mengembalakan dan mejaga integritas manusia sebagai ciptaan Tuhan sesuai dengan tujuan dan misi Gereja di Tanah Papua Barat ini sejak 5 Februari 1855 sampai kepada akhir pengadilan TUHAN yang lebih ADIL sesuai janji-janji Firman Tuhan.

Alkita dari Kejadian sampai Wahyu tidak memberitaukan kepada Gereja bahwa Masyarakat Adat, Penduduk Pribumi, Penduduk Asli itu anggota separatis, anggota OPM dan pembuat makar. Alkitab memberitaukan Gereja bahwa Penduduk Pribumi itu adalah umat Tuhan yang diciptakan sesuai gambar dan rupa ALLAH. Mereka perlu hidup. Mereka perlu dihargai dan dihormati hak-hak kemerdekaan politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan hak-hak yang lain. Seperti ada motto dalam perspektif Militer bahwa “TNI AD Adalah Benteng Terakhir Penjaga Integritas NKRI”, maka “Gereja Adalah Benteng Terakhir Penjaga Integritas Manusia Sebagai Ciptaan dan Gambar Allah” (Kejadian 1.26).

Keempat, Perspektif Pemerintah Indonesia.

Pemerintah Indonesia, TNI, POLRI, dan Hakim selalu mengklaim bahwa Tanah dan Rakyat Papua Barat adalah bagian sah dari wilayah Republik Indonesia berdasarkan sejarah Perjanjian New Yord 15 Agustus 1962; 1 mei 1963 dan Act of free Choice 1969 (PEPERA 1969). Proses sejarah integrasi ini menjadi dasar bagi Indonesia, TNI, POLRI, dan Hakim, bahwa Papua Barat adalah bagian sah dari Wilayah Indonesia.

Namun demikian, dari penelitian dan kejadian ilmiah tentang sejarah PEPERA 1969 yang dilakukan oleh Dr. Jhon Salford, Akademisi Inggris, Prof.J.P.Drooglever, sejarahwan Belanda, dan penelitian saya sendiri dalam buku yang berjudul: Orang Papua Bukan Separatis Makar dan OPM, telah membuktikan bahwa Tuhan dan Rakyat Papua Barat menjadi korban konspirasi politik global dengan kepentingan ekonomi dengan isu bahaya komunisme di asia pasifik. Bahkan kesimpulan tegas dari Dr. Jhon Shalford dan Prof.J.P.Drooglever ialah Pelaksanaan Penetuan Pendapatan Rakyat (PEPERA 1969) adalah sangat memalukan mengorbankan masa depan Penduduk Asli Papua Barat.

Sementara di pihak rakyat dan Bangsa Papua Barat ini menjadari dan megetahui bahwa peristiwa dan sejarah Act of free Choice (PEPERA 1969) adalah catat moral dan cacar hukum serta palsu. Karena itu, rakyat dan Bangsa Papua Barat ini selalu dan terus menerus melakukan perlawanan dan penolakan dengan berbagai bentuk sampai hari ini. Karena, perbedaan yang tajam ini, Umat Tuhan di Tanah Papua terus menjadi korban di tangan Pemerintah Indonesia melalui kekuatan TNI, POLRI berbagai produk hukum yang menindas humat Tuhan.

Intinya, karena orang Melayu, Indonesia, Pemerintah, TNI dan POLRI yang datang menduduki dan mejajah Tanah dan Orang Asli Papua ini belum memiliki pemahaman yang betul tentang sejarah, kebudayaan orang Melanesia. Mereka selalu tampil sebagai pahlawan, penjelamat dan pemilik kebenaran yang datang menolong dan membangun orang Papua.

Pada kenyataannya ialah ada empat agenda pokok Indonesia di Tanah Papua Barat ini, yaitu: kepentingan ekonomi, kepentingan politik, kepentingan keamanan, kepentingan pemusnahan etnis Melanesia. Untuk mencapai empat agenda besar ini, Pemerintah, TNI dan POLRI dan Hakim selalu mengunakan berbagai bentuk kekerasan untuk menyembunyikan pembohongan mereka.

Melalui proses pembohongan dan ruang rekayasan Pemerintah Indonesia berhasil menginteraksikan ekonomi, Politik, dan keamanan ke dalam Indonesia dan menindas dan memperlakukan orang Asli Papua seperti hewan. Seperti dominggus Sorabut menyatakan bahwa: “Saya menolak pemeriksaan polisi atas dakwaan kami berlima, dikarenakan pemeriksaan saya dengan keempat terdakwa lainnya di tondong senjata serta kami dilukai seperti binatang”. Sementara, Agustinus M.Kraar Samanay menyatakan imannya: “…Saya sudah muak mengikuti persidangan serta tak mau lagi memberikan keterangan”. (Bintang Papua: Sabtu, 03 Maret 2012).

Perilaku dan watak kasar dan tidak manusiawi dan biadap seperti ini menyebabkan Pemerintah Indonesia gagal mengindonesiakan dan menginteraksikan orang Asli Papua Barat kedalam Wilayah Indonesia. Maka manusia Papua, orang Melanesia ini benar-benar berada diluar bingkai dan kerangka serta kontruksi integrasi NKRI”.

Kelima, Perspektif sejarah (Histori).

Rakyat dan bangsa Papua Barat memiliki latar belakang sejarah berdirinya sebuah Negara sejak tanggal 1 Desember 1961 Lengkap dengan Atribut Kenegaraan, yang meliputi: Anggota Parlemen (Dewan New Gunea Raad), Bendera: Bintang Kejora. Lagu Kebangsaan: Hai Tanah Papua. Penduduk: Orang Asli Papua Barat dari Sorong sampai Merauke. Wilayah: Dari Sorong sampai Merauke.

Dan orang Melayu, Indonesia juga memiliki sejarah sendiri yaitu: 17 Agustus 1945; 19 Desember 1961 (TRIKORA); 1 Mei 1963 (Awal dimulainya malapetakan bagi Orang Asli Papua); 15 Agustus 1962 Perjanjian New Yord (Tidak melibatkan orang asli Papua Barat); Ac Of Free Choice (PEPERA) 1969 adalah sejarah catat moral dan hukum sejarah palsu. Lebih lengkapnya, membeli buku: Orang Papua Bukan Separatis, Makar, dan OPM (2005); Pemusnahan Etnis Melanesia (2007) yang sudah dilarang Kejaksaan Agung Khusus dalam BAB II; dan Suara Gereja Bagi Umat Tertindas (2008) di BAB II Integrasi. Belum Selesai (2010) West Papua: Persoalan Internasional (2011).

Keenam, Perspektif Pelangaran Ham (Human Rights Violence) sejak 1 Desember 1961 sampai sekarang ini.

Sejarah integrasi Tanah dan Rakyat Papua Barat kedalam Republik Indonesia adalah sejarah berdarah. Sejarah yang penuh dengan kekejamanan dan Tragedi Kemanusiaan. Tanah dan Rakyat Papua Barat dimasukan secara paksa kedalam Indonesia melalui berbagai bentuk Perjanjian Internasional dan Manipulasi PEPERA 1969 demi kepentingan ekonomi, Politik, kemanan dan pemusnahan etnis Melanesia.

Akibat kekerasan Negara sistematis melalui kekuatan TNI,POLRI dan perangkat Hukum Indonesia melahirkan trauma, budaya bisu, budaya takut, Budaya diam dalam diri orang Asli Papua Barat. Berbagai bentuk peristiwa pengejaran, penangkapan tanpa prosedur, penjaraan, penyiksaan, penembakan, pembunuhan, penghilangan paksa, penculikan dan pemerkosaan menjadi bagian hidup Orang Asli Papua yang dicurigai sebagai musuh Negara.

Peristiwa yang memilukan hati ini terus berlangsung sampai hari ini dalam era UU No.21 tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus dalam bentuk modifikasi atau bentuk lain. Tidak ada jaminan perlindungan terhadap hak-hak Dasar dan kelangsungan hidup Orang Asli Papua. Masa depan orang Asli Papua Barat dalam Era otonomi Khusus semakin terancam dan suram serta sangan memprihatinkan.

Ketujuh, Perspektif Pembangunan yang Diskriminatif dan Exploitatif.

Orang Melayu, Indonesia sangat Bangga karena mereka selalu mengukur kemajuan dan Pembangunan dari gedung-gedung besar, megah, hotel-hotel mewah, tokoh-tokoh mega dan bertingkat, jalan-jalan beraspal, jembatan-jembatan, besi dan beton. Tetapi, pertanyaannya ialah milik siapakah semuanya itu? Kemanakah Orang Asli Papua? Manfaat apa yang di dapat oleh orang Melanesia ini? Sebelumnya ialah terjadi pengancuran dan pembunuhan secara sistematis secara ekonomi, pendidkan, kesehatan terhadap orang Asli Papua.

Atas Nama Pembangunan nasional semua gunung-gunung diancurkan, Air Jernih dikaburkan dan dikotorkan sehingga tidak layak diminum. Tanda-tanda penduduk asli dirampas untuk penempatan Transmigrasi dan Perusahaan Kepala Sawit. Penduduk asli Papua diusir dengan kekerasan moncong senjata dengan alasan melawan pembangunan nasional dan lebih exstrim adalah anggota OPM dan Separatis yang perlu ditumpas.

Orang Asli Papua benar-benar menuju pemusnahan secara perlahan dari atas Tanah dan Negeri mereka ini. Kongresmen, Eni F.Faleomavaega, anggota kongres Amerika menyatakan di Papua barat sedang terjadi: “Slow Motion Genocide”.

Kedelapan, Undang-Undang No.21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus yang Gagal.

Otonomi Khsusu solusi politik atau Bargaining politik anatar bangsa Papua dan bangsa Indonesia, untuk melindungi rakyat Papua dan, pemberdayaan orang asli Papua, keberpihakan kepada orang asli Papua. Tetapi, “Dalam realitasnya, Otonomi Khusus benar-benar gagal. Otonomi Khusus benar-benar menjadi mesin pembunuh masa depan rakyat dan Bangsa Papua. Otonomi Khusus benar-benar menjadi alat ampuh proses pemusnahan etnis Papua yang lebih aman, cepat, sistematis, dan tidak menimbulkan kecurigaan-kecurigaan dari masyarakat internasional yang peduli tentang kemanusiaan. Otonomi Khusus adalah lembaga yang memperpanjang penderitaan, tetesan dan cucuran air mata penduduk asli Papua. Otonomi Khusus adalah solusi dan keputusan politik tentang status politik papua ke dalam Indonesia yang telah gagal. Otonomi Khssus adalah mesin menghancur yang benar-benar meminggirkan (Memarjinalkan) penduduk asli Papua dari segala aspek. Otonomi Khsus adalah PEPERA 1969 jilid kedua yang telah gagal dan telah menjadi persoalan baru”. (Baca: Opini saya: Otonomi Khusus Telah Gagal Papua: Bintang Papua, Kamis, 09/02/2012, hal.5).

Di atas batu ini saya meletakan peradaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akan budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri (Wasior, Manokwari, 25 Oktober 1925, Pdt. I.S.Kijne). Ibu Shirin Ebadi, Wanita Iran, Pemenang Hadiah Nopel Perdamaian pernah mengatakan: “Ketakutan kami untuk mengatakan kebenaranlah yang menyebabkan selama bertahun-tahun member kesempatan dan kekuatan bagi para penindas yang menindas kami”.

Shalom. Tuhan memberkati kita. Tuhan memberkati dan melindugidomba-domba Allah yang sedang diadili dan hakim-hakim yang sedang mangadili sejarah rakyat dan bangsa Papua.

Penulis:

Dr. Ndumma Socratez S.Yoman, M.A (Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua)

Sumber Buku:

Saya Bukan Bangsa Budak (Socratez Sofyan Yoman,2012, Hal. 194-203)

Editor: Nuken

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here